Memang sudah saatnya membumi, dia terpaksa menjelaskan sesuatunya lebih mudah, sehingga menjadi renyah untuk dipahami. Ada yang kasihan padanya, orang yang begitu kapabel di segala lini, tiba-tiba diserampang oleh mata yang buta.

Terpaksa ia mundur satu langkah demi satu teman yang telah berbuat baik padanya. Walaupun itu terlalu berat dan serasa jumud. Marilah kita melangkah di ketiak progesitivitas, cumbu dia setiap saat, ketika kita mendapati kejenuhan, sebagai aroma terapi. Ya, kita semua. Jalan memang terbentang luas, tetapi langkah terkadang terhenti oleh kemalasan, senantiasa membahana di cermin yang mengintai terus, merayu hati.

Kita lihat sekawanan di sana, mereka terpetak dari kecil, titik nol telah membawanya mengitari dunia. Bergerak seksama tanpa ragu akan setiap konsep yang telah mereka cetuskan bersama. Kini, setiap sudut mereka dipandang semua orang sebagai suatu kebesaran dan kesuksesan, besar menunduk, sukses yang tersebar. Amat luas pengaruh yang mereka berikan kepada lingkungan, juga berangkat dari nol. Tilik saja sepeda butut yang membawa perjalanan mereka, tampak elegan, jauh dari aksen butut. Terletak rapi di pojok ruangan. Satu demi satu mereka tata, gotong-royong membangun peradaban.

Kita lupakan mereka. Mereka hanya membikin iri kita. Kita adalah kita, biarkan mereka dengan jalannya. Tapi apa salahnya jika kita mencuri, atau lebih sopannya meminjam tanpa dikembalikan metode mereka. Pasti Yang di atas rela, toh itu demi kebaikan hamba. Kemudian kita cuci dan racik dengan adonan bumbu eksistensi kita sehingga menjadi ramuan yang mujarab bagi kesembuhan kita. Seraya kita berkata: “Go to hell, hai malas, hai bodoh, hai miskin, hai picik, hai dengki…”

Keberanjakan terkesan memaksa, menggenang di lamunan, mengudara dan berlangit. Kita pasti beranjak. Ada beberapa titik di dunia, dan setiap yang ada mempunyai deskripsi dari perspektif masing-masing. Perspektif bercengkerama mendamaikan posisi, menjaga toleransi yang dicita-citakan. Penasehat-penasehat pun tak kalah garang mewarnai, berembug mencari cela, menawarkan solusi. Kesepakatan didapat. Apa yang terjadi berikutnya?

Tebakan-tebakan dari pelbagai macam sudut silih berganti, memperiuh suasana. “Perlihatkan itu!” Perintah bapak di seberang. “Sembunyikan dua aral!” Larang si Tua menengarahi. “Lebarkan dan perpanjang penjelasan tadi!” Minta anak muda menginginkan pemahaman pasti. “Persetan dengan semua.” Apatisme bajingan dari kejauhan.

Alam kejadian sengaja membentuk keteraturan yang, walaupun ketidakteraturan ada di dalamnya. Garis batas terpaksa menjelaskan manusia-manusia bebal. Padahal mereka sudah menggejala. Menangis, tertawa, tersenyum, menggerutu, terpadu sahdu oleh nada kehidupan. Not-not balok tersusun rapi di lembaran-lembaran sang kreator, memainkan peran satu persatu. Lakon menghayati, sutradara akan memamerkan giginya­­—tanda bahagia, produser menuai limpahan materi.

Apa yang kamu tunggu, limpahkan saja semuanya, tapi bukan vatalis. Rambu-rambu selalu membantu mengarahkan. Rambu sepenuh hati mengatakan: hijau, kuning, merah. Jangan kamu ragukan kesetiaannya. Memang, menelusuri jalanan terkadang menjemukan dan menyenangkan.

Kepatuhan dan ketidakpatuhan membahasa melalui kata-kata simpang siur kepentingan yang mengakar pada egoisme. Sodok sana, sodok sini, rebut ini, rebut itu, rampas dia, tumbuk mereka. Bahasa egois menguap ketika semua orang merasa benar, membelotkan apologi-apoogi sekitar. Tidak ada kata selain “aku”.

Semilir hembusan angin di sore hari, menjadikan semua orang tampak bahagia menapaki keademan hidup melalui sore sebelum gelap menyongsong. Mereka beramai-ramai membenamkan diri di tempat-tempat perbelanjaan bersama teman maupun keluarga.

Tiba-tiba di seberang menuntut kita mendengarkan sesuatu yang mempertanyakan kita sebagai “titik”.

Semuanya tersekap dalam konsep universal dan parsial. Terkadang kita berpikir tentang common sense yang terpatri di setiap lubuk nalar dan hati individu, tidak bisa kita pungkiri campuhan manusia akan kemanusiaannya. Kita akan berontak ketika kemanusiaan kita ternodai oleh aspek-aspek non manusiawi. Bisa ditilik dari pertikaian yang muncul dari noktah, noda yang melunturkan kita sebagai manusia, dan sebagian dari kita me-non-manusiawikan manusia. Pelacur menjadi bahan pergunjingan empuk bagi mereka yang memandang licik akan eksploitasi diri, pelacur tidak lagi manusia tatkala mereka dituntut, dalam artian terpaksa dan tanpa berontak, untuk mendarmakan kemaluannya hanya demi segelintir pelicin hidup. Wanita yang merelakan dirinya di pelukan pelbagai jenis lelaki telah kehilangan dirinya sebagai manusia, dan mereka yang mengail di air keruh darinya juga menafikan dirinya terhadap entitas kemanusiaannya menjadi, apabila boleh saya katakan, kebinatangan—satu hal yang dapat menggambarkan kebiadaban, kekejian, dan menyingkirkan rasionalitas manusiawinya. Inilah akal parsial kita, laiknya egoisme psikologis yang mendorong untuk mendapatkan profit by self. Apa yang akan kita jalankan terbentur oleh kepentingan-kepentingan semu yang mengarah pada perpecahan. Saya adalah saya, kamu mungkin kamu, mereka merupakan mereka. Kehidupan tak lagi mengarah pada satu tujuan besar—abadi.

Memang kehidupan ini terlihat dari berbagai titik, sudut, dan arah. Semua menempati posisinya masing-masing untuk mengambil suatu kebahagian, yang secara tidak langsung disepakati oleh kehidupan itu sendiri. Keberagaman akan keperbedaan merupakan suatu hal yang nisyaca. Kita tahu itu, tetapi bagaimana kita memperlakukan itu sebagai bentuk kebanggaan kita terhadap iklim ekspansi ilmu pengetahuan yang plural lebih dari sekedar polemik yang memperuncing masalah. Sering kali terlihat perdebatan sengit dari dua atau lebih sudut yang merasa berkepentingan demi sebuah harga diri golongan. Tendensi-tendisi kepemilikan kita pegang di dalam apa yang kita amini selama ini tanpa rasa kritis yang membangun, sehingga kita masih saja terjerembab di kubangan nafsu nilai kedirian. Penciptaan musuh disengaja untuk menumbuhkan loyalitas kubu, walaupun kompetisi mempunyai pengaruh yang signifikan dalam membentuk kepribadian. Tetapi selama ini yang terlihat adalah kepicikan mata memandang “akulah kebenaran”. Klaim seperti itu sering kali kita temukan di gang-gang kecil suku, ras, agama, negara.

Saya kira manusia sudah bosan dengan ketegangan rasio yang berujung adu fisik. Sudah saatnya kita menyingkirkan segala kepentingan kita—non manusiawi—untuk menuju peradaban yang benar-benar manusia. Untuk menunjukkan kepada “sekitar”, “ini lho manusia”. Universalitas harus kita junjung sebagai wasiat dari zat yang mengatasi segala hal untuk melebur satu sama lain hingga membentuk satu kepaduan yang elegan. Cinta dan kasih sayang mampu membawa kita untuk menyingkirkan sekat-sekat yang selama ini menghantui kita. Tidak ada suku di dunia ini, agama hanyalah omong kosong, negara adalah pembantu yang sebenarnya tidaklah membantu. Akankah kita adalah “kemanusiaan”, tanpa menghiraukan manusia sebagai subyek?

Lempuyangan, 6 Mei 2008.

Kemenangan Deswa

Juni 11, 2008

Tiada manusia yang bergembira sepanjang masa, tetapi bukanlah suatu alasan untuk hidup sengsara. Jaman keemasan manusia memiliki masanya. Jangan kamu sesali apa yang ada di masa lalu karena nostalgia menjeratmu untuk selalu jatuh, membutakan mata yang menatap ke depan.

Aku benar-benar menitikkan air mata. Temanku telah menemukan dirinya. Pagi itu aku menelponnya, dan ia bilang: “opiniku akhirnya diterima di surat kabar,” ia tidak menyebutkan nama. Terdengar raut bahagia dari suaranya yang renyah, seolah-olah hilang beban 5 kg yang selama ini ia tenteng kemana-mana.

Kebahagiaan itu tidak mengusikku untuk turut merasakannya, aku semakin membencinya. Asal kamu tahu saja, dari mana ia berada, kamu lihat secuil pekarangan di halaman belakang rumahku, tidak lebih meyakinkan daripada kera yang aku pelihara. Kini rontok semua bulu yang melekat, ia manusia, menjulurkan lidah seraya menaburkan bulu di mukaku. Aku hanya tertunduk lemah, meratapi kemaluanku yang tercampur gondok.

Pagi yang menjadi titik balik persahabatan. Gelagat tidak baik, dia tidak mau menunjukkan opini tersebut.

Untuk pertama kalinya ia menuai hasil yang tidak murni karyanya. Semakin hari, semakin menjadi. Aku runtuh, dia berdehem utuh.

Akhirnya dia mengejekku:

“Cecunguk kecil, lihat dirimu yang berselimut kedinginan. Aku telah meraih sukses, semua mata memandangku dan mencampakkanmu ke limbah. Kamu tidak lebih dari sampah yang rela dipungut pemulung-pemulung miskin untuk dijual, kemudian sebagai ganjalan perut ketika lapar.”

“Terima kasih atas buku-bukumu yang telah kamu pinjamkan kepadaku selama ini. Ini abu bukumu. Besok abu ini mau saya larung, biar terbawa arus, sebagai tanda kematian seorang teman.”

Dia ketawa lepas, semakin lepas.

“ouh, aku lupa satu hal, tulisanmu menjadi rebutan orang-orang bodoh yang mau tertipu. Tulisanmu sudah aku bukukan atas nama diriku. Aku pun kaya.”

Dia merobek beberapa lembar uang dengan nominal seratus ribu dan melemparkan sepihannya ke mukaku.

“Ini sedikit royalti dari penerbit.”

Rasa ini tersayat sangat tajam, dengan apa aku harus menambalnya, di toko seberang tidak dijual obat merah, rumah sakit itu pun hanya menyediakan stimulus jasmani. Aku putuskan untuk berlari sekencang mungkin mengelilingi komplek sambil memaki-makinya sembari meludah tepat di wajahnya—aku membawa foto kita berdua ketika nuansa indah masih bersemi—sampai lidahku kering dibuatnya.

“Hah.. hah..hah…..,” aku kecapekan di pukul empat sore. Aku bertemu Immanuel Kant di menara membawa motif dan kategori imperatifnya. “Hai,“ kataku mengawali. Tatapannya tetap terpusat, aku semakin tenggelam. “Hai,” sapaku untuk kedua kalinya. Sedikit menoleh tetapi masih terpusat, aku tersipu. Ia tidak mengindahkan, aku pun melanjutkan makian itu sambil terus berlari, menginjak-nginjak rumput tepat di tengah-tengah taman.

Salah seorang guruku pernah bilang: “Tirulah Kant, dia selalu berada di depan menara tepat pukul empat sore setiap hari. Sapalah dunia, sebelum dunia hilang ditelan malam!”

Aku menatap pancuran yang ada di tengah taman, muntahan itu tak kunjung melegakan, kembali aku memaki-maki ke atas sebagai orang dungu. Merintih. Sekawanan anjing berebut segepok daging pemberian tante di sebarang jalan, jam makan sore telah tiba. Tante itu tampak begitu cantik dibalut blus mini. Aku tampak tertegun dan segera ingin menikmatinya. Tapi anjing-anjing telah menyantapnya lebih dulu.

“Kenapa Kamu turunkan air kalau tidak mampu memadamkan api, kenapa Kamu bikin tinggi seseorang jika ia berkacak pinggang, apa yang ada di benak-Mu ketika aku menidurimu?” Umpatku lebih dalam.

Aku melihat mukaku tampak kuyu dan geram di tengah-tengah kolam. Matahari yang menyinariku melalui sinar sorenya enggan menyapa karena aku telah berganti menjadi rongsokan. Kehinaan telah terpaut ke dalam tubuh ini, aku tak lagi bisa memberikan kebahagiaan padanya. Sebentar lagi pasti dia marah, menghentikan sinarnya dan berubah pekat karena gelap, malam tinggal hitungan.

“Tampar saja sekeras-kerasnya, biar aku tersadar. Jangan ragu menggerusku dengan derasnya arus.”

Masa lalu mengingatkanku. Ia menari-nari mengelilingi benakku hingga aku tak sadarkan diri, wajah pun semakin kuyu dengan mata yang terkatup. Dua menit sekali ejekan air menyiram lamunanku.

Kedatangan temanku sebagai juru warta, mengabarkan masa depan yang patut untuk kita titi bersama. Ia menjelaskan sampai ke detail langkah yang akan kita tempuh nantinya untuk meraih titik tersebut. Aku pun menyetujui. Tidak ada keraguan. Kemantapan hati ini sudah bulat. Strategi mulai kita buat dan jejak kaki kita toreh. Sebenarnya gerak aneh ada di langkah ke-sepuluh.

“Apa yang kamu cari di tengah tumpukan jerami itu Deswa?”

Suara itu mengingatkan di langkah ke-sembilan. Aku tetap melangkah satu langkah berikutnya. Setelah itu, aku bilang: “Aku cuma mewartakan kelemahanku di depan seorang teman. Ia telah menghunus perutku dengan pedang yang dia curi dari seorang samurai. Dia telah menghianatiku untuk maju dan terbelakang bersama-sama.”

Deswa!

“Jangan panggil aku dengan Deswa lagi, Desiran Dewa kini tak mau menetap di haribaanku. Ia lebih memilih temaku sebagai tempat persemayaman. Mereka bersekongkol menjatuhkan tepat ketika aku mulai mengetahui siapakah diriku.”

Anak kecil jongkok di depan pot bunga.

“Bentuk yang indah untuk ditanami yang indah pula. Kucabut saja yang layu itu, ia sudah begitu lapuk untuk menempati yang masih muda dan segar.” Gumamnya tanpa menggeser posisi jongkongnya.

Ada yang mendengar kata-katanya. Toko bunga di seberang jalan tiba-tiba lebih anggun bersama mekarnya bunganya. Tapi ia dingin, tak ada reaksi yang berlebih, seharusnya efek kejut itu berhasil menggerakannya untuk berdiri dan wow, “apa aku nggak salah lihat.”

Penampilan-penampilan rona dipilin, diremas, berusaha menentukan. Mawar merah dengan durinya yang menantang dipilihnya untuk menemani pot, sehingga membentuk simbiosis mutualisme. Pot akan bangga dengan nyonya yang cantik dan baik hati, walaupun ia menyediakan duri. Tetapi ia tidak akan membuat tubuhnya lecet, atau bahkan merusak tubuh mungilnya. Ia hanya menunjukkan bahwa ia mampu bertahan di bawah bayang-banyang pencuri keelokan­­­­­—orang yang tidak bisa dikatakan jaya, untuk memenuhi keelokan saja ia harus merebut kemolekan dari yang lain.

Mawar menikmati kehidupan barunya dengan pot dalam pandang anak kecil. Anak kecil pun tersenyum melihat temuannya yang tampak bahagia dari pancaran warna merah putih. Kusam di tubuh pot tak lagi kelihatan. Kerak-kerak yang telah lama menempel, sedikit sedikit demi sedikit mengelupas. Rasa yang terbentuk dalam hitungan detik itu mengerahkan segenap potensi yang ada pada masing-masing untuk selalu meraih apa yang selama ini mereka impikan, tak hanya sebuah lamunan.

Jalanan tidak begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan. Pohon beringin yang tumbuh di tepian jalan seperti mengiringi perjalanan mereka. Angin datang di sela-sela daun, mencermati setiap yang lewat, membawa kesejukan.

Akulah pemerhati kecil itu. Aku iri dengan mereka. Aku ingin seperti mereka.

“Hai, apa yang kamu kerjakan di tempat sepi ini. Jika kamu pemerhati kecil, akulah pemerhatimu.”

Itu Kant, akhirnya dia manyapaku. Aku senang dia menghampiriku, tetapi ekspresiku dingin, tidak menunjukkan kegembiraan.

“Jawablah pertanyaan di bawah ini, tunjukan kalau kamu lebih dari temanmu itu!”

Apa yang dapat saya ketahui?

Apa yang seharusnya saya lakukan?

Apa yang bisa saya harapkan?

“Gunakan apriorimu untuk menetukan aposteriorimu. Pahami dalam rasio apa yang berkaitan dengan objek-objek di luar dirimu. Rasiomu akan membentuk apa yang ada di balik kenyataan. Sangsikan dirimu untuk sebuah kepastian.”

Aku mengangguk, tanda mengerti. Walaupun aku belum paham langkah apa yang harus saya dahulukan untuk memulainya kembali tanpa bantuan orang lain.

Gemericik air memberi sinyal persahabatan. Aku tersadar. Dunia kini menungguku dengan wujud yang baru. Aku akan meneropong semua di atas menara pengetahuan. Biarkan semuanya tampak kecil dan mudah untuk aku genggam tanpa melupakan apresiasi kepada lingkunganku.

Lempuyangan, 8 Juni 2008

Ego

Juni 11, 2008

Ia bertutur melalui bilangan, setengah-setengah tidak menjadi bulat dengan sendirinya hingga membentuk kepribadian yang diingnkan. Apalagi ketika tumbangnya pohon dengan separuh batang yang masih menepel, ia terus saja mengejek Ego.

“Tidurlah keluar, biarkan dirimu diterpa angin malam yang menghangatkan, selagi kamu masih merasakan dingin. Tampakkan satuan itu bergema terbawa riuhnya gigitan tikus di dapur-dapur rumah kumuh. Sampaikan kebimbanganmu menuntut ke jalan erangan nafsu bertahta dinding-dinding kelam. Uraikan rintihan kasihmu melalui setiap sapaan yang terucap.”

“Bangunlah terhadap satu, rasakan larutmu terjalin antara manis dan asam, dan hilangkan padanan yang selalu menegasikan. Ungkapkan cinta palsumu kepada lembut sucimu. Kecup keningmu seraya berkata: “aku mencintaimu,” kemudian berlarilah seraya ucapkan: “bajingan.” Tinggalkan anganmu beriringan membentuk gerbong-gerbong kereta yang selalu menggerutu satu sama lain karena sempitnya ruang gerak yang diberikan.”

“Berbaringlah menghadapi kesulitan, runtuhkan kemudahan dengan pernyataan yang menyesatkan, setan yang paling setan pun tidak akan bisa merasakannya. Tertawalah selagi gigimu masih hidup rukun bertetangga, jalinlah sesama katup sampai mereka tersenyum berhamburan keluar menertawakanmu.”

“Woiiii…., apabila kamu mempunyai wujud, tampakkan dirimu, jangan kamu sembunyikan arwah yang bersemayam manyun. Hadapi tiga yang berarus satu: lelah, letih, lesu. Manjakan kekuatanmu hingga menjadi keberanian yang beradab. Letakkan tanganmu mengepal ke dalam rongga waktu dan ruang.”

***

Hari-hari berikutnya Ego sowan ke bopo guru kepribadian yang dulu mengajarkan sopan-santun. Ia tidak puas dengan etika monoton yang diajarkan bopo guru di kelas, ia menuntut pelajaran yang lebih berarti. “Lebih baik aku basah, daripada lembab,” katanya mengeluh.

Semakin hari, Ego semakin menangis. Ia berjalan bergelantungan di jalanan dan pepohonan. Naik turun, terhadang dan mengahadang. Tercekik ubun-ubun yang mengental. Tarikan napas mengekor dari hulu ke hilir membentuk jalan setapak yang membuatnya masih hidup.

Bopo guru menyeringai dari kejauhan sambil menghisap rokok yang tidak menentukan panjang pendeknya umur manusia. “Geruslah terus obat itu dan telan sesuai dosis yang menurut tepat,” nasehat Bopo guru membatin.

Ladang- ladang tertata rapi, berbaris sejajar di tetumbuhan yang membuahkan. Sahut-sahutan burung cemara keesokan paginya menghujat Ego sepi. Ketiak perawan membaui setiap aral di kejauhan. Ego bernafsu melihat lekukan tubuh yang melintas di persimpangan jalan. Cantik sekali wanita itu, terdiam ia merabahi rerumputan sampai ke semak-semak, rayuannya terlihat, tangan mengeksplorasi tubuh, kejang-kejang wanita itu keasyikan. Teruskan saja, nikmat sekali, jangan lepaskan. Gerayangi tubuh ini mencapai titik kulminasi.

Ego masih saja labil, sikap kekanak-kanakannya muncul ketika melihat satu hal yang mampu membelah antara ya dan tidak. Keputusannya masih saja terpelanting di antaranya. Terbelah oleh ketidakpastian.

Wanita itu, yang ternyata bernama Suti, menampar Ego pasti. “plak…,” keras sekali bunyinya, sampai-sampai pipi Ego merah lebam. Ego tak kuasa menahan geram, ia balas menampar. Tapi apa yang terjadi, tangannya berhenti di tengah jalan. Angin kebimbangan membawa langkahnya terhenti. “Ah, kasihan dia bila merintih kesakitan, tetapi diriku tersayat oleh bukan luka lebam, harga diri lelaki dipertanyakan di sini.”

Hari itu Ego merasakan perih, ia pulang dan mengadu ke ibunya: “Tidakkah ibu mengerti seperti apakah marah seorang wanita itu? Setiap kali ibu memarahiku, aku bahagia dan disitulah kasih sayang terpancar tanpa ditutup-tutupi. Kali ini lain, aku benar-benar merasakan kejegkelan yang luar biasa dari dia, Suti namanya bu. Dia memperlakukanku semena-mena. Sebagai lelaki, aku tidak terima dia memukulku.” Dengan senyum simpul, ibunya menimpali: “baguslah, kamu telah sedikit beranjak dewasa, kelaki-lakianmu mulai terbentuk.”

“Ibu ini gimana sih, orang anaknya dianiaya, jawabannya malah kayak gitu.”

“Nanti kamu akan megerti sendiri seiring bergulirnya masa.”

Ego bertambah kesal, kaleng yang kebetulan ada di depan kakinya, ia tedang keras-keras hingga mengudang bunyi sekitar. “Apa yang ibu maksudkan, aku tak habis pikir, ibu malah memandang hal itu sebagai sesuatu yang benar.” Semakin galau Ego membenak, “Biarlah, mungkin ada hal yang lebih di baliknya. Lebih baik, aku menelusuri lorong itu saja, walaupun gelap, pasti ada keterangan di sana.”

***

Di sebelah sana, nenek moyangku menghadirkan dirinya keharibaan semesta. Mereka tak segan-segan menyerahkan segala apa yang ada hanya untuk penyatuan diri. Mbah Kunto, banyak orang memanggilnya, sering kali mendermakan serpihan debu dan repihan kerikil beserta kembang tujuh rupa sebagai lambang paradoks. Ia mengatakan bahwa paradoks adalah sebuah wujud transenden untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan yang ingin manusia wujudkan. Yang plural adalah tunggal, maka dari itu ada hubungan struktutal. Hubungan status kosmik seseorang dengan ruang-waktu kosmos. Paradoks ini semakin terjalin mesra dan sesungguhnya tidak saling menegasikan. Semua bergelindan menurut aturan yang terpatri oleh keberlangsungan itu. Api adalah air, barat adalah timur. Semua itu rasional sesuai jamannya, tetapi akan dicampakkan dan dianggap tidak waras oleh manusia jaman modern, yang mengarahkan alurnya melalui hukum sebab akibat, menafikan mistik. Begitu juga dengan apa yang dilakukan manusia modern akan dianggap gila oleh manusia jaman mbah Kunto.

Mbah Kunto meramu obat setiap malam untuk orang-orang sakit yang minta bantuan kepadanya. Setiap kali obat itu diminum, tanpa pikir panjang, penyakit mereka lari terbirit-birit melihat seperti melihat hantu di bawah pohon randu. Ketika mbah Kunto ditanya tentang khasiat apa yang ada di dalam obantnya itu, mbah Kunto hanya menjawab, penyakit hanya takut pada alam dan Yang menguasainya.

Malam itu terdengar lapang.

“Tolong…,” bunyi itu bergelantungan di dinding-dinding langit, “tolong……..” semakin keras dan panjang. Orang-orang bergerak ke arah suara tersebut, tak terkecuali mbah Kunto. Mereka berlari, dalam hati mbah Kunto: “Alam marah, ia mengacuhkan kekuatan alam.”

Seseorang kejang-kejang mengikuti irama rintik deras hujan malam, orang-orang yang pada berdatangan mengambil jarak, mereka tidak berani mendekat. “Itu Paijo, apa yang dia lakukan malam-malam begini, bukankah istrinya lagi berjuang mempertahakan hidupnya dan calon bayi hasil pernikahannya tahun lalu. Apa-apaan Paijo ini.” “Lihat, Paijo semakin menggila, kilatan-kilatan petir mulai mendekat, pasti tidak lama lagi akan meluluhlantahkan tubuhnya.”

“Semoga Paijo tidak apa-apa.”

“Paijo pasti selamat.”

“Paijo… apa yang kamu lakukan di sanan?”

“Jangan kau teruskan kekonyolanmu itu, paijo!”

“Bergabunglah dengan kami, dan segeralah menghadap Mbah Kunto untuk dituntut menuju jalan taubat!”

Mata berbisik-bisik, mulut mengatainya, hati pun berharap-harap cemas. Keringat dingin semakin deras membasahi kening, kaki tak kuasa menahan getar yang semakin menjadi, tangan tak kalah mengikutinya. Perut menghempaskan mual.

Paijo hanya bersila mengutuki alam sedari tadi. Kepalanya menengadah ke langit, kakinya menghentakkan tanah kuat-kuat: “Bangsat kalian, dewa-dewa busuk yang hanya bersemayam di atas dan bersembunyi di lubang-lubang kecil. Turun, tampakkan wujud kalian. Penentu kebijakan yang tak melihat kenyataan manusia, bedebah busuk, puih…,” ia meludah. “Tatap bayiku yang akan lahir sebentar lagi, anak itu akan menjadi gembel yang apatis terhadap lingkungan karena orang tuanya yang tidak punya apa-apa untuk memberinya kebahagiaan. Jangan kau lahirkan, wahai dewa yang memberikan kehidupan! Berikan saja kenikmatan seks bagi kami.”

Di belakang, Mbah Kunto meminta masyarakat untuk merapalkan puja-puji dewa atas keselamatan bayi dan orang tuanya. Suasana hening menyelimuti malam. Mereka berharap Paijo yang sehari-hari dikenal sebagai orang yang rendah hati dan pekerja keras itu menghadapi kenyataan ini tegar dan tidak melenceng dari kepercayaan yang telah ia pegang dari keluarganya. Semakin hening, tapi langit tak menunjukkan keheningannya, langit bergemuruh kencang, berkelebat angin memapaki malam. Sayat-sayat kilat menjilat-jilat daratan yang tak lagi datar.

“Tiarap!”

“ dar… oeeeee’…”

Bapak terkeping-keping, anak terlahir utuh sebagai bayi, ibu meninggal di antara getir dan senyum. Sekerumunan hanya bisa memandang ngeri. Tanah lapang bergetar.

***

“Itulah bapak Ego, bapakmu ini terlahir tanpa orang tua. Ada rasa yang memudahkan kita menitikkan air mata, tapi jangan kamu sesali keturunanmu yang terputus akibat ketidakpuasan yang tak terjelaskan. Kakekmu hanyalah manusia yang berusaha mematikan sesuatu demi susuatu yang lebih hidup.”

“Ya, Ego sendiri tahu, bagaimanapun ada yang tersembunyi, tugas kita hanyalah mengorek dan terus mengerok hingga kita terkorek.”

“Bapak senang kamu berkata demikian. Temui ibumu, dia telah membuatkan sarapan kesukaanmu.”

Ego bersepeda melepas pagi, pelabuhan dan tepian laut telah menunggunya untuk bermain debur kecil ombak.

“Dunia ini tercipta atas dasar simbol, ini terjadi karena adanya hal yang ingin diungkapkan tanpa kegamblangan, yang sebenarnya adalah kesemuan. Apakah simbol merupakan ketidakmampuan sesuatu menjelaskan sesuatu?” gumam nalar Ego tiba-tiba.

Kapal-kapal menepi, nelayan dengan suka cita menurunkan hasil tangkapannya semalam.

Ibu-ibu dari desa yang sedari tadi menunggu, berjejer rapi menengadahkan tangannya meminta ikan, buat dimakan keluarganya sendiri, dan juga yang dijual. Penjual-penjual kecil itu enggan membeli ikan hasil lelang, sambil membawa tampah ukuran sedang, tangan mereka terjulur, mereka rela mengemis kepada nelayan demi keuntungan tanpa modal. Pagi itu aktivitas pelabuhan begitu ramai.

Ego menghampiri ibu yang paling ujung dekat laut: “Mengapa Ibu begitu semangat, bukankah anak-anak Ibu membutuhkan Ibu di rumah?”

“Ini saya lakukan toh untuk kelangsungan hidup keluarga kami dek, suami saya cuma petani kontrak, juragannya seorang laki-laki gemuk yang pelitnya bukan main,” jawab Ibu itu tenang.

“Dari jam berapa Ibu tiba di pelabuhan?”

“Saya berangkat dari rumah jam tiga pagi, saya bersepeda selama sejam. Tiba di sini, nelayan sudah mulai berdatangan, dan tak begitu banyak orang yang meminta-minta. Lihatlah keranjang yang saya taruh di sebelah sepeda. Itu hasil meminta selama dua jam. Apabila dijual seluruhnya cukup untuk makan satu minggu hari. Selepas shubuh, suami saya berangkat, sorenya ia hanya diberi lima belas ribu, jika saya tidak melakukan ini, dari mana anak-anak saya bisa sekolah?”

“Walaupun masih kecil, anak-anak saya bisa melakukan aktivitas mereka tanpa bantuan orang tua. Jangan risaukan ibu. Geliatmu akan berarti jika kamu meniliki orang-orang yang di bawah atap di sebelah sana,” Ibu mengarahkan telunjuknya ke sebelah selatan, “mari saya tunjukkan.”

Orang-orang memainkan angka-angka melalui jari-jemarinya.

“Lelang dibuka, Ikan tuna lima puluh ton,” petugas lelang membuka penawaran. Anak muda mengacungkan lima jarinya, “Lima juta untuk mas yang ada dibelakang.” Kesepuluh jari terangkat. “Ya, bapak di depan saya memberi sepuluh juta.” Jari telunjuk dan tengah tangan kiri teracung dan ibu jari membentuk lingkaran dengan telunjuk kanan. “Dua puluh juta, Ibu cantik di pojok tengah melepas tuna.”

“Kamu lihat sendiri, mereka rela berdesak-desakkan, mereka laiknya Ibu yang meluangkan waktunya di pelabuhan untuk sesuap nasi. Hanya kapasitas kami yang berbeda.”

Tiba-tiba.

“Ego, lari!” Teriak keras seseorang. Ego berlari sekencang-kencang, instingnya mengatakan untuk berlari segera. Ego berhenti. “Apa maksud aku berlari meninggalkan ibu tadi,” batin Ego.

“Goblok, mengapa kamu berhenti, dirimu masih mampu mendapatkan kedirian. Lingkungan akan mendapratmu ke dalam keterasingan.”

Lempuyangan, 27 Mei 2008

7 Podium

Juni 10, 2008

Podium 1:

Dia yang tersenyum menyembunyikan kegetiran

Podium 2:

Anggukan kepala yang tersapu oleh suap-suap penebar janji

Podium 3:

Mereka yang berusaha menyapu segala urusan

Podium 4:

Lekukan nurani dan rasa

Podium 5:

Lintas nalar yang mengendap di kerumunan silih berganti

Podium 6:

Kepasrahan menghadapi kenyataan

Podium 7:

Kita yang tertunduk di hadapan-Nya

Lempuyangan, 1 Juni 2008